Islam Dalam Takaran Inklusif

Prologue
Agama adalah sebuah fenomena yang kaya sekaligus sangat kompleks. Ia (baca : agama) mengandung berbagai dimensi: ritual, doktrinal, etikal, sosial dan experiensial — begitu pulalah halnya dengan Islam sebagai agama, dimana telah iman kita bahwa agama Islam adalah agama yang sempurna. Bertitik tolak dari keimanan ini kita menyakini pula bahwa Islam adalah cara pandang hidup (way of life) yang total dan padu menawarkan landasan moral dan etis bagi pemecahan semua masalah kehidupan; Islam adalah din (agama), dunya (dunia) dan daulah (negara/politik); Islam adalah sistem keyakinan dan sistem hukum (‘aqidah wa syari’ah);
Atas dasar realitas Islam yang kompleks tersebut maka Hajriyanto Y. Tohari, membahasakan bahwa Islam adalah risalah yang universal (untuk semua manusia) yang pasti relevan bagi setiap perkembangan zaman dan tempat (shalih li-kulli zaman wa makan), mondial (untuk seantero dunia) dan eternal (sampai akhir zaman). Pada pandangan yang lain, agama merupakan gejala sosial yang ada dan berkembang setua perkembangan masyarakat itu sendiri. Setiap masyarakat memiliki motif untuk beragama atau — jika” memakai istilah C.G Jung — nuturaliter religiosa, sebagai manifestasi dari fitrah manusia yang membutuhkan tuntunan dalam memecahkan problematikanya. Maka beragama berarti pengakuan akan keterbatasan, sekaligus ketundukan masyarakat pada seperangkat nilai transedental (bukan nilai yang propan).
Dengan begitu, adalah wajar jika kemudian masyarakat selalu mengkorelasikan setiap momentum yang mereka alami dalam menjalani kehidupannya dengan agama. Tetapi realitas itu semua tidak berarti Islam itu semacam “paket resep jadi” yang sifatnya monolitik dan rejimentif (serba seragam) untuk setiap ruang dan waktu tanpa memerlukan sama sekali ijtihad — yakni penyegaran pemahaman sesuai dengan dinamika tantangan zaman dan relevansi lokal.
Demikian halnya dengan Islam di Indonesia sebagai kekuatan mayoritas telah menunjukan peran nyata dalam sejarah yang panjang — tidak saja secara historis (hal itu terbukti sejak masa pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia) — tetapi juga secara sosiologis ia (baca : Islam) berperan aktif dalam proses pemberdayaan masyarakat yang berlangsung terus-menerus. Proses tersebut berjalan mengikuti irama kehidupan yang wajar sesuai tuntunan dinamika masyarakat. Yang perlu dicatat bahwa meskipun perubahan-perubahan mendasar terjadi karena adanya perombakan sistem, namun seringkali diawali dengan gerakan pemikiran yang dikumandangkan oleh sejumlah tokoh.
Dari sekian lama perjalanan agama Islam “yang multidimensi” dan perkembangan pemikiran para pemikir Islam telah mengalami berbagai macam perubahan dan penyesuaian baik secara evolusi atau revolusi, maupun secara struktural atau cultural — yang jika dipetakan dalam pola-pola pemikirannya dapat dikategorikan dalam pola pemikiran Islam tradisionalisme, modernisme, dan fundamentalisme — yang sudah barang tentu kesemuanya ditujukan dan bertujuan dalam rangka mengagungkan dienul Islam.
Sehingga suatu hal yang sulit dihindari dalam dinamika pemikiran keagamaan adalah ketegangan-ketegangan dan bahkan konflik yang muncul mengiringi perkembangan pemikiran tersebut. Di satu pihak ketegangan itu muncul oleh suatu keharusan mempertahankan sedi doktrinal norma agama dan situasi dunia yang selalu berubah, sementara di pihak lain ketegangan lahir dari oleh proses sosiologis. Meskipun demikian pergulatan-pergulatan pemikiran dan gagasan keagamaan pada akhirnya memberi dasar bagi proses sosial — setelah terlebih dahulu gagasan itu teruji dan tahan atas falsifikasi.
Ketegangan pemikiran dan gagasan terlihat dari polarisasi visi dan misi yang dikedepankan kaum tradisionalisme, modernisme dan fundamentalisme. Pemetaan dari pola pemikiran dan gagasan keagaman Islam (khususnya di Indonesia) adalah sebagai berikut :
1. Tradisionelisme Islam
Tradisionelisme Islam adalah gerakan pemikiran Islam yang masih terikat dan terkait kuat dengan pemikiran-pemikiran ulama fiqih, hadits, tasawuf dan tauhid, yang hidup antara abad ke-7 hingga abad ke-13 . Gerakan ini tumbuh subur sejak awal masuknya Islam ke Indonesia. Dengan ciri akomodatifnya terhadap tradisi-tradisi lokal, gerakan ini memberi sumbangan yang berarti bagi proses awal Islamisasi masyarakat yang berjalan secara evolutif dan relatif tanpa kekerasan.
Secara garis besar, kalangan tradisionalis memiliki 3 (tiga) visi dasar dalam pemahaman keagamaan, yaitu :
a. Dalam bidang hukum, mereka menganut ajaran salah satu madzhab empat, meskipun dalam praktek sangat kuat berpegang pada madzhab Syafi’i.
b. Dalam bidang tauhid, mereka menganut paham yang dikembangkan oleh Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi.
c. Dalam bidang tasawuf, kelompok ini menganut dasar-dasar ajaran Abu Qasim Junaidi Al-Baghdadi dan Imam Ghazali.
Secara khusus, tradisionalisme memiliki ciri yang bersifat teologis yang kemudian mempengaruhi seluruh tingkah laku keagamaan, politik dan kemasyarakatan mereka, yaitu ketika mereka memahami konsep ahlussunah waljama’ah secara ketat. Keterikatan mereka pada paham ini mekin mengental sehingga kemudian berfungsi sebagai semacam ideologi tandingan sebagai pemikiran keagamaan lain.
2. Modernisme Islam
Modernisme Islam lahir merupakan gerakan pembaharuan atas kemapanan aliran tradisionalisme Islam yang telah terlebih dahulu mengakar dalam masyarakat, meskipun secara institusional (kaum tradisional) lebih belakang. Modernisme mendapat inspirasi dari gerakan purifikasi Muhammad Ibn Abdul Wahab di Jazirah Arabia dan PAN-Islamisme Jamaluddin Al-Afghani, yang kemudian mendapat kerangka ideologis dan teologis dari muridnya seperti Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.
Bidang garapan pembaharuan dari gerakan pemikiran ini, lebih terfokus pada segi kelembagaan, baik bidang organisasi maupun pendidikan yang dikelola secara modern sehingga dapat memenuhi kebutuhan ummat secara kongkrit. Cara demikian dipandang sebagai alternatif guna mengentaskan masyarakat dari kebodohan dan keterbelakangan.
Keberagamaan massa Islam yang selama ini didominasi dengan praktek-praktek tradisional, yang dalam pandangan kaum modernis sarat dengan khurafat dan bid’ah selain bertentangan dengan Islam juga dinilai sebagai cara yang tidak akan mampu melindungi diri mereka dari pengaruh budaya Barat. Untuk itu ada ciri penting yang menjadi visi dasar modernisme, yaitu usaha pemurnian Islam dengan memberantas segala yang berbau khurafat dan bid’ah, melepaskan diri dari ikatan madzhab dan membuka kembali pintu ijtihad.
3. Fundamentalisme Islam
Fundamentalisme Islam adalah gerakan pemikiran yang menolak bentuk pemahaman agama yang terlalu rasional apalagi kontekstual, sebab lagi mereka, yang demikian itu tidak memberikan kepastian. Maka dari itu, memahami teks-teks keagamaan secara rigid dan literalis merupakan alternatif yang mereka tonjolkan.
Gerakan ini mengalami perkembangannya pasca tahun 70-an menyusul kemenangan Revolusi Islam di Iran dengan pimpinan Imam Ayatullah Khomeini, sebagai simbol fundamentalisme dunia Islam. Buku-buku terjemahan dari luar mengalir deras terutama karya Al-Maududi, Hasan Al-Banna, Sayyid Qutb, Abd. Qadir Awdah dan lainnya. Sampai sekarang kelompok ini berkembang lewat usrah-usrah dan juga lewat sejumlah organisasi underbow-nya.
Ketiga pola pemikiran Islam tersebut di atas (yaitu : Tradisionalisme, Modernisme, dan Fundamentalisme) masing-masing memiliki sisi kekurangan. Tradisionalisme, karena terlalu kauh menyatu dengan budaya lokal dan cenderung bertahan dengan produk pemikiran lampau, sangat selektif th gagasan-gagasan baru. Ia tidak mempunyai keberanian meendobrak gagasan-gagasan ulama salaf sehingga nyaris mandul.
Sedangkan modernisme, karena terbelenggu oleh rutinitas mengolah lembaga-lembaga pembaharuannya mengakibatkan kehilangan kesegaran orientasi. Disamping itu, karena slogannya untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, juga penentangannya pada tradisi, mempunyai penolakan atas warisan khazanah klasik Islam. Inilah yang mengakibatkan modernisme mengalami kekeringan intelaktual akibat cara berpikir yang jump to conclusion.
Sementara itu, fundamentalisme juga tidak cukup menyakinkan mengingat ia sebenarnya hanyalah bentuk keberagamaan yang reaktif atas fenomena eksternal. Inilah yang mengakibatkan sangat rapuh dalam rumusan konsepsi dan konstruksi pemikrannya.
Namun ternyata pemikiran keislamana tidak berhenti sampai disitu saja — contoh di Indonesia, seiring masa pembanguna Orde Baru dan Era Reformasi — telah muncul corak baru yang berupaya menutupi kelemahan pola pemikiran sebelumnya. Pola pemikiran itu sering distilahkan dengan sebutan Neo-Modernisme. Dimana agenda pembaharuannya tidak lagi soal ad hoc dan intern neo-modernisme keislaman, tetapi terlebih kepada agenda-agenda kebangsaan termasuk problem aktual yang dihadapinya. Salaah satu karakter mendasar kelompok ini adalah penolakan terhadap formalisme dan pemanfaatan agama untuk tujuan politik. Ia (baca : kaum Posmodernisme) ingin mengembalikan agama sebagai kekuatan etik dan moral bagi kesejahteraan masyarakat secara luas.
Diantara pemikiran kaum modernisme yang kini dianggap berani dan radikal dan melawan arus pada masa itu adalah selain gagasan pluralisme, kebangsaan juga gagasan dibidang teologi adalah Teologi Inklusif , yang secara umum kerangka perumusan teologinya adalah pemahaman untuk memahami pesan Tuhan, dimana semua kitab suci (injil, Zabur, Taurat dan Al-Qur’an) itu pesan Tuhan.

Inklusifisme dan Ekslusifme Islam Terlahir dari Gagasan Neo-Modernisme (Postmodern) Bidang Teologi
1. Apa itu Postmodernisme
Secara sederhana Postmodernisme atau Neo-Modernisme dapat diartikan dengan “pemahaman modernisme baru”. Neo-Modernisme dipergunakan untuk memberi identitas pada kecenderungan pemikiran keislaman yang muncul sejak beberapa dekade terakhir yang merupakan sintesis, setidaknya upaya sintesis antara pola pemikiran tradisionalisme dan modernisme.
Mudahnya, pola neo-modernisme berusaha menggabungkan dua faktor penting; modernisme dan tradisionalisme — dimana sebagaimana telah diutarakan di atas bahwa keduanya mempunyai sisi-sisi kelemahan. Modernisme Islam cenderung menampilkan dirinya sebagai pemikiran yang tegar bahkan kaku. Sedangkan Tradisionelisme Islam, merasa cukup kaya dengan berbagai pemikiran klasik Islam, tetapi justeru dengan kekayaan itu para pendukung pemikiran ini sangat berorientasi kepada masa lampau dan sangat selektif menerima gagasan-gagasan modernisasi.
Dalam studi keislaman, istilah neo-modernisme diintroduksir oleh seorang tokoh gerakan pembaharu Islam asal Pakistan Fazlur Rahman (1919-1988). Adapun gejala neo-modernisme Islam di Indonesia menurut Greg Barton, mulai terlihat pada tahun 1970-an yang dimotori oleh generasi muda terpelajar. Umumnya mereka yang berpendidikan modern, namun yang pasti mereka adalah generasi yang sudah matang pemikirannya dan dibesarkan oleh berbagai pengalaman. Mereka terdiri dari kaum cerdik yang memiliki pemikiran brilian dan selalu memicu kontroversi, karena tema-tema yang mereka aktualisasikan cukup mendasar, filosofis, dan bernuansa sosial, maka banyak mendapat respon positif.
Dalam analisis Budhy Munawar Rahman, pemikiran neo-modernisme Islam dapat dikategorikan menjadi tiga tipologi, yaitu :
a. Islam Rasionalis;
b. Islam Peradaban;
c. Islam Transformatif.

2. Inklusif dan Ekslusif Islam
Secara etimologi kata inklusif dan ekslusif merupakan bentuk kata jadian yang berasal dari bahasa Inggris “inclusive” dan “exlusive” yang masing-masing memiliki makna “termasuk didalamnya” dan “tidak termsuk didalamnya/terpisah”.
Masalah inklusif dan ekslusif dalam Islam merupakan kelanjutan dari pemikiran/gagasan neo-modernisme kepada wilayah yang lebih spesifik setelah pluralisme, tepatnya pada bidang teologi. Gagasan tersebut berangkat, bahwa teologi kita pada saat ini seperti sudah di setup dalam kerangka teologi ekslusif — yang menganggap bahwa kebenaran dan keselamatan (truth and salvation) suatu agama, menjadi monopoli agama tertentu. Sementara agama lain, diberlakukan bahkan ditetapkan standar lain yang sama sekali berbeda; “salah dan karenanya tersesat ditengah jalan”. Hal ini sudah masuk ke wilayah state of mind kita. Cara pandang suatu komunitas agama (religious community) terhadap agama lain, dengan menggunakan cara pandang agamanya sendiri ~ Teologi Ekslusif ~ tanpa menyisakan ruang toleransi untuk berempati, apalagi simpati; “bagaimana orang lain memandang agamanya sendiri”.
Seperti sudah taken for granted kita seringkali menilai dan bahkan menghakimi agama orang lain, dengan memakai standar teologi agama kita sendiri. Pun sebaliknya, orang lain menilai bahkan menghakimi kita, dengan memakai standar teolog agamanya sendiri. Jelas ini suatu mission imposible untuk bisa saling bertemu, apalagi sekedar toleran. Hasilnya justeru perbandingan terbaliknya: masing-masing agama malah menyodorkan proposal “klaim kebenaran” (claim of truth) dan “klaim keselamatan” (clim of salvation) yang hanya “ada” dan “berada” pada agamanya sendiri-sendiri, sementara pada agama lain dituduh salah, menyimpang, bahkan menyesatkan.
Ide utama dari teologi inklusif adalah pemahamannya untuk memahami pesan Tuhan. Semua kitab suci (injil, Zabur, Taurat dan Qur’an) itu pesan Tuhan, diantaranya pesan Taqwa (QS, 4:131). Taqwa disini bukan sekedar tafsiran klasik, seperti sikap patuh kehadirat Tuhan. Sebagaimana Cak Nur paparkan bahwa :
“Pesan Tuhan itu bersifat universal dan merupakan kesatuan esensial semua agama samawi, yang mewarisi Abrahamic Religion, yakni Yahudi (Nabi Musa), Kristen (Nabi Isa), dan Islam (Nabi Muhammad). Lewat firman-Nya Tuhan menekankan agar kita berpegang teguh kepada agama Itu, karena hakikaat dasar agama-agama itu (sebagai pesan Tuhan) adalah satu dan sama . Agama Tuhan, pada esensinya sama, baik yang diberikan kepada Nabi Nuh, Musa, Isa atau kepada Nabi Muhammad.

Kesamaan yang dimaksud Cak Nur, terletak pada kesamaan dalam pesan besar, yang meminjam istilah Al-Qur’an — disebut washiyyah, yakni paham Ketuhanan Yang Maha Esa atau Monoteisme, istilah inti ajaran para Nabi dan Rasul Tuhan. Hal tersebut sejalan pula dengan Ibn Taymiyah yang menyatakan bahwa meskipun syari’atnya bermacam-macam. Maka kata Nabi Muhammad SAW, “Bahwa kami golongan para Nabi, agama kami adalah satu”. Yakni risalah tawhid yang berlandasan kepada kepasrahan kehadirat Tuhan. Bahkan, “kesadaran ketuhanan” (Taqwa) yang sifatnya monoteistik (Tauhid) merupakan implikasi langsung dari al-Islam itu sendiri, yang secara generik berarti sikap pasrah kehadirat Tuhan. Al-Islam adalah al-din (tunduk patuh). “Sesungguhnya ikatan (al-din) disisi Allah adalah sikap pasrah (al-Islam) demikian firman Tuhan”.
Sikap pasrah tersebut merupakan inti dasar teologi inklusif dari pandangan: kesatuan kemanusiaan (the unity of prophecy) yang berangkat dari konsep ke-Maha Esa Tuhan (the unity of God). Dimana akhirnya sikap pasrah merupakan titik temu semua agama (ajaran) yang benar, sebagai upaya menuju Tuhan Yang Maha Esa.
Berdasarkan pemaparan tersebut maka dapat ditarik kesepahaman sementara bahwa bangunan epistimologi inklusifisme dalam Islam diawalai dengan tafsiran al-Islam sebagai sikap pasrah kehadirat Tuhan. Dimana kepasrahan ini menjadi karakteristik pokok semua agama yang benar, yakni bersikap berserah diri kepada Tuhan (world view al-Qur’an). Dimana secara esensialnya wacana inklusif dan ekslusif dalam Islam, terutama yang berkenaan dengan konsep taqwa, tawhid (monoteisme) dan al-Islam (sikap pasrah) sebagai kalimatun sawa atau common platform, merupakan masnifestasi logis dari teologis inklusif agama-agama.

Epilogue
Memberikan pendekatan secara tekstual dalam kata-kata sudah barang tentu terkadang susah untuk dilakukan, maka sebagai gantinya penulis mencoba menyegarkan kembali ingatan kita dengan firman Allah SWT (yang setidaknya secara kontekstual) merupakan pesan inklusifisme Islam :
Surat Al-Baqarah : 62

Artinya : Sesungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi, dan orang-orang Nasrani dan orang-orang shabiin, siapa saja di antara mereka beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal shaleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati

Menurut Alwi Shihab, secara sepintas ayat tersebut menunjukan kepada jaminan Allah atas keselamatan semua golongan yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Namun perlu diingat pula bahwa redaksi Al-Qur’an tidak akan dapat dijangkau maksudnya secara “pasti”, kecuali oleh orang yang menuturkannya.
Dengan adanya pandangan/gagasan dan wacana inklusif dan eklusif dalam Islam setidaknya telah membukakan kepada kita dan memberikan optie kepada kita, atas beberapa pilihan dalam rangka merealisasikan ajaran agama Islam adalah universal (rahmatan lil alamiin); Islam itu din (agama), dunya (dunia) dan daulah (negara/politik); Islam adalah sistem keyakinan dan sistem hukum (‘aqidah wa syari’ah); dan sebagai agama yang sempurna yang didesain Tuhan sampai akhir zaman; Islam itu risalah yang universal (untuk semua manusia) yang pasti relevan bagi setiap perkembangan zaman dan tempat (shalih li-kulli zaman wa makan), mondial (untuk seantero dunia) dan eternal (sampai akhir zaman) — sehingga eksistensinya tidak lagi termarginalkan, tersisihkan, terasingkan dan khusus untuk di Indonesia tidak menjadi tamu di rumah sendiri — karena bagaimanapun juga Islam di Indonesia adalah kaum mayoritas, yang idealnya dan seharusnya tidak canggung dan ragu untuk menyusun dan menata rumah tangganya (baca : negaranya) sendiri.
Harjiyanto Y. Thohari, Islam dan Realitas Budaya, Media Cita, Jakarta, 2000 : 301
M. Deden Ridwan, Membangun Kerukunan Teologi; Kehampaan Spiritual Masyarakat Indonesia, Media Cita, Jakarta, 2000 : 71
Para tokoh intelektual Islam Indonesia umumnya lebih terbuka dan jujur dalam menanggapi tantangan modernitas daripada kelompok-kelompok muslim lainnya. Gagasan-gagasan yang disebarkan mereka lebih banyak ditulis dalam bahasa Indonesia dan sedikit sekali ditulis dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris, sehingga pandangan-pandangan mereka kurang dikenal di negara-negara Islam lainnya. Meskipun demikian gagasan mereka berada di garis depan pemikiran Islam baru. Hal itu terbukti dengan cepatnya mereka merespon tantangan-tantangan moderintas di permulaan abad ke-20 dengan menggunakan pemikiran-pemikiran Muhammad Abdul dan pengikutnya, secepat ketika mereka memberikan respon pada pemikiran Islam baru di akhir abad ini. Dengan demikian, kini para intelektual muslim Indonesia tidak dapat dikatakan sebagai penerima pasif semata terhadap pemikiran-pemikiran baru. Greg Barton, Gagasan Islam Liberal di Indonesia, Pustaka Antara & Paramadina, Jakarta, 1999 : 1
Zamakhsari Dhofier, Tradisi Pesantren, LP3ES, Jakarta, 1982 : 1
A. Muhith Muzadi, NU dan Fikih Kontekstual, LKPPSM, Yogyakarta, 1994 : 29
Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1975 : 58
M. Wahyuni Nafis, Rekonstruksi dan Renungan Religius Islam, Paramadina, Jakarta, 1995 : 112
Nurcholis Madjid, dkk., Satu Islam Sebuah Dilema, Mizan, Bandung, 1986 : 26
Budhy Munawar Rahman, Islam Pluralis Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, Paramadina, Jakarta, 2001 : 4-7
Silvita IS, Kamus Populer, Jaya Agung, Surabaya, 1989 : 99 dan 127
Norcholis Madjid, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, Mizan, Jakarta, 1987 : 70
Nurcholis Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban; Sebuah Tealaah Kritis Tentang Masalah Keimanan Kemanusiaan dan Kemodernan, Paramadina, Jakarta, 1992 : 226
Alwi Shihab, Islam Inklusif, Mizan, Bandung, 1999 : 78
Tags: aliran benakku
Prev: Running Test Home Theatre PTA Bandung
Next: Perbandingan Hukum Alasan Perceraian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: